perang salib, simoni dan kisah yusuf

PERANG SALIB

Perang Salib adalah gerakan umat Kristen di Eropa yang memerangi umat Muslim di Palestina secara berulang-ulang mulai abad ke-11 sampai abad ke-13, dengan tujuan untuk merebut Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslim dan mendirikan gereja dan kerajaan Latin di Timur. Dinamakan Perang Salib, karena setiap orang Eropa yang ikut bertempur dalam peperangan memakai tanda salib pada bahu, lencana dan panji-panji mereka.

Istilah ini juga digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi kecil yang terjadi selama abad ke-16 di wilayah di luar BenuaEropa, biasanya terhadap kaum pagan dan kaum non-Kristiani untuk alasan campuran; antara agama, ekonomi, dan politik. Skema penomoran tradisional atas Perang Salib memasukkan 9 ekspedisi besar ke Tanah Suci selama Abad ke-11 sampai dengan Abad ke-13. “Perang Salib” lainnya yang tidak bernomor berlanjut hingga Abad ke-16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaissance.

LATAR BELAKANG PERANG SALIB

Perang Salib Pertama dilancarkan pada 1095 oleh Paus Urban II untuk merebut serta membebaskan tanah kota suci Yerusalem yang juga merupakan tanah suci bagi umat Kristen dari umat Muslim yang pada saat itu terdapat perkembangan dan banyak kunjungan yang dilakukan oleh terutama para pedagang juga ulama muslim kaum seljuk Turki. perang salib pertama adalah tidak lebih dari suara – suara yang dilebih – lebihkan dari para ulama kristen yang diakibatkan oleh gangguan yang dilakukan oleh segelintir pedagang kaum seljuk Turki juga bukan mengatasnamakan agama yang dilakukan pada jalur perdagangan kaum kristiani. Keberangkatan atau migrasi dari pasukan salib pertama ini berubah dari misi atau tugas yang diberikan yaitu untuk melindungi dan merekonsiliasi antara tiga umat beragama disana menjadi sebuah usahapenaklukan,pembantaian terhadap umat non kristen dan yahudi serta penguasaan keseluruhan wilayah Yerusalem.

Baik ksatria dan orang awam dari banyak negara di Eropa Barat, dengan sedikit pimpinan terpusat, berjalan melalui tanah dan laut menuju Yerusalem dan menguasai kota tersebut pada Juli 1099, serta mendirikan Kerajaan Yerusalem atau kerajaan Latin di Yerusalem. Meskipun penguasaan ini hanya berakhir kurang dari dua ratus tahun, Perang salib merupakan titik balik penguasaan dunia Barat, dan satu-satunya yang berhasil meraih tujuannya.

Perang Salib pada hakikatnya bukan perang agama, melainkan perang merebut kekuasaan daerah. Hal ini dibuktikan bahwa tentara Salib dan tentara Muslim saling bertukar ilmu pengetahuan.

Perang Salib berpengaruh sangat luas terhadap aspek-aspek politik, ekonomi dan sosial, yang mana beberapa bahkan masih berpengaruh sampai masa kini. Karena konfilk internal antara kerajaan-kerajaan Kristen dan kekuatan-kekuatan politik, beberapa ekspedisi Perang Salib (seperti Perang Salib Keempat) bergeser dari tujuan semulanya dan berakhir dengan dijarahnya kota-kota Kristen, termasuk ibukota ByzantiumKonstantinopel-kota yang paling maju dan kaya di benua Eropa saat itu. Perang Salib Keenam adalah perang salib pertama yang bertolak tanpa restu resmi dari gereja Katolik, dan menjadi contoh preseden yang memperbolehkan penguasa lain untuk secara individu menyerukan perang salib dalam ekspedisi berikutnya ke Tanah Suci. Konflik internal antara kerajaan-kerajaan Muslim dan kekuatan-kekuatan politik pun mengakibatkan persekutuan antara satu faksi melawan faksi lainnya seperti persekutuan antara kekuatan Tentara Salib dengan Kesultanan Rum yang Muslimdalam Perang Salib Kelima.

Perang Salib I
Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke PalestinaTentara Salib yang dipimpin olehGodfreyBohemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan County Edessa dengan Baldwin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiokhia dan mendirikan Kepangeranan Antiokhia di Timur, Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis (Yerusalem) pada 15 Juli 1099 M dan mendirikan Kerajaan Yerusalem dengan rajanya, Godfrey. Setelah penaklukan Baitul Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104 M), Tripoli (1109 M) dan kota Tyre (1124 M). Di Tripoli mereka mendirikan County Tripoli, rajanya adalah Raymond.

Selanjutnya, Syeikh Imaduddin Zengi pada tahun 1144 M, penguasa Mosul dan Irak, berhasil menaklukkan kembali AleppoHamimah, dan Edessa. Namun ia wafat tahun 1146 M. Tugasnya dilanjutkan oleh puteranya, Syeikh Nuruddin Zengi. Syeikh Nuruddin berhasil merebut kembali Antiokhia pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M, seluruh Edessa dapat direbut kembali.

Perang Salib II
Kejatuhan County Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyampaikan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Conrad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Syeikh Nuruddin Zengi. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Conrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Syeikh Nuruddin wafat tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubiyang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M, setelah berhasil mencegah pasukan salib untuk menguasai Mesir. Hasil peperangan Shalahuddin yang terbesar adalah merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 M, setelah beberapa bulan sebelumnya dalam Pertempuran Hittin, Shalahuddin berhasil mengalahkan pasukan gabungan County Tripoli dan Kerajaan Yerusalaem melalui taktik penguasaan daerah. Dengan demikian berakhirlah Kerajaan Latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir. Sehabis Yerusalem, tinggal Tirus merupakan kota besar Kerajaan Yerusalem yang tersisa. Tirus yang saat itu dipimpin oleh Conrad dari Montferrat berhasil sukses dari pengepungan yang dilakukan Shalahuddin sebanyak dua kali. Shalahuddin kemudian mundur dan menaklukan kota lain, seperti Arsuf dan Jaffa.

Perang Salib III
Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslim sangat memukul perasaan Tentara Salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Selanjutnya, Tentara Salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa rajaJermanRichard si Hati Singa raja Inggris, dan Philip Augustus raja Perancis memunculkan Perang Salib III. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M dengan dua jalur berbeda. Pasukan Richard dan Philip melalui jalur laut dan pasukan Barbarossa – saat itu merupakan yang terbanyak di Eropa – melalui jalur darat, melewati Konstantinopel. Namun, Barbarossa meninggal di daerah Ciliciakarena tenggelam di sungai, sehingga menyisakan Richard dan Philip. Sebelum menuju Tanah Suci, Richard dan Philip sempat menguasai Siprus dan mendirikan Kerajaan Siprus. Meskipun mendapat tantangan berat dari Shalahuddin, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Philip kemudian balik ke Perancis untuk “menyelesaikan” masalah kekuasaan di Perancis dan hanya tinggal Richard yang melanjutkan Perang Salib III. Richard tidak mampu memasuki Palestina lebih jauh, meski bisa beberapa kali mengalahkan Shalahuddin. Pada tanggal 2 Nopember 1192 M, dibuat perjanjian antara Tentara Salib dengan Shalahuddin yang disebut dengan Shulh al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Baitul Maqdis tidak akan diganggu.

Perang Salib IV
Pada tahun 1219 M, meletus kembali peperangan yang dikenal dengan Perang Salib periode keenam, dimana tentara Kristen dipimpin oleh raja JermanFrederik II, mereka berusaha merebut Mesirlebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-orang Kristen Koptik. Dalam serangan tersebut, mereka berhasil menduduki Dimyath, raja Mesir dari Dinasti Ayyubiyahwaktu itu, al-Malik al-Kamil, membuat penjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyath, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin tahun 1247 M, pada masa pemerintahan al-Malik al-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya.
Ketika Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik yang menggantikan posisi Dinasti Ayyubiyyah, pimpinan perang dipegang oleh BaibarsQalawun, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum Muslim tahun 1291 M. Demikianlah Perang Salib yang berkobar di Timur. Perang ini tidak berhenti di Barat, di Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana.

Kondisi sesudah Perang Salib

Perang Salib Pertama melepaskan gelombang semangat perasaan paling suci sendiri yang diekspresikan dengan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi yang menyertai pergerakan tentara Salib melintasi Eropa dan juga perlakuan kasar terhadap pemeluk Kristen Ortodoks Timur. Kekerasan terhadap Kristen Ortodoks ini berpuncak pada penjarahan kota Konstantinopel pada tahun 1024, dimana seluruh kekuatan tentara Salib ikut serta. Selama terjadinya serangan-serangan terhadap orang Yahudi, pendeta lokal dan orang Kristen berupaya melindungi orang Yahudi dari pasukan Salib yang melintas. Orang Yahudi seringkali diberikan perlindungan di dalam gereja atau bangunan Kristen lainnya, akan tetapi, massa yang beringas selalu menerobos masuk dan membunuh mereka tanpa pandang bulu.

Pada abad ke-13, perang salib tidak pernah mencapai tingkat kepopuleran yang tinggi di masyarakat. Sesudah kota Akka jatuh untuk terakhir kalinya pada tahun 1291 dan sesudah penghancuran bangsa Ositania (Perancis Selatan) yang berpaham Katarisme pada Perang Salib Albigensian, ide perang salib mengalami kemerosotan nilai yang diakibatkan oleh pembenaran lembaga Kepausan terhadap agresi politik dan wilayah yang terjadi di Katolik Eropa.

Orde Ksatria Salib mempertahankan wilayah adalah orde Ksatria Hospitaller. Sesudah kejatuhan Akka yang terakhir, orde ini menguasai Pulau Rhodes dan pada abad ke-16 dibuang ke Malta. Tentara-tentara Salib yang terakhir ini akhirnya dibubarkan oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1798.

 Simoni adalah sebuah istilah yang dipakai untuk merujuk pada praktik suap dan penjualan jabatan rohani. Istilah ini sendiri diambil dari namaSimon Magus dalam Kisah Para Rasul 8:18-24.Gereja mulai mempraktikkan simoni setelah penghambatan kekaisaran Roma atas gereja berakhir.Selama Abad Pertengahan, praktik simoni berkembang dan semakin merajalela dalam gereja. Selanjutnya sejumlah Paus dan beberapa konsili turut mengecam praktik simoni bahkan ini menjadi isu yang sangat penting untuk dibicarakan pada masa feudalisme berkembang. Dalam Konsili Kalsedon, seseorang dilarang ditahbiskan bila ia membeli jabatan tersebut dengan sejumlah uang. Simoni juga mendapat larangan keras dalam Konsili Lateran dan Konsili Trente. Pada konsili Lateran, orang yang melakukan simoni dianggap sebagai penyesat. Dikeluarkanlah sebuah keputusan bahwa orang yang ditahbiskan ke dalam sebuah jabatan gerejawi oleh seorang pejabat lain yang melakukan simoni namun ia sendiri tidak membeli jabatan, maka orang tersebut hanya membutuhkan penumpangan tangan. Tokoh yang mengecam keras praktik simoni antara lain Gregorius Agung dan Thomas Aquinas.

kISAH YUSUF
Marilah kita belajar dari kisah yusuf dalam mengatasi masalah  hidupnya yang disebabkan oleh orang atau segerombolan orang yang itu – itu saja, yang selalu membuat masalah dalam hidupnya.

1. Yusuf dibenci oleh saudara – saudaranya ( Kejadian 37 : 4 )

37:4 Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. 

2. Yusuf direncanakan oleh saudara – saudaranya untuk dibunuh ( Kejadian 37 : 18 )

37:18 Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. 

3.Yusuf di buang ke dalam sumur ( Kejadian 37 : 24 )
37:24 Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. 

Sampai di sini kita melihat bahwa masalah yang dihadapi yusuf dihasilkan oleh orang – orang yang sama, yaitu saudara – saudaranya. Dan masalah itu meningkat dari yang berkapasitas rendah sampai dengan yang berkapasitas tinggi.

Dibenci, rencana untuk dibunuh sampai dengan dibuang ke dalam sumur.

Di dalam Kejadian 37 : 28, kita membaca

37:28 Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir. 

Yusuf diangkat ke atas. Seolah – olah mereka menyelamatkan yusuf ( mengeluarkan yusuf dari masalah ). tetapi sebenarnya mereka sedang memberikan masalah yang lebih besar lagi kepada Yusuf, yaitu dijual dan di bawa ke Mesir.

Kejadian 37 : 28,

37:28 Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir. 

Tetapi Yusuf menjalani semua dengan sabar. Tidak ada emosi yang menyebabkan pertengkaran yang hebat. Kalau kita membaca lebih jauh kisah Yusuf di Mesir, kita akan mendapati Yusuf diperhadapkan dengan masalah – masalah yang sangat besar. Difitnah, masuk ke dalam penjara.
Tetapi akhir dari kesabarannya, benar – benar luar biasa. Yusuf menjadi orang nomor 2 di Mesir.

Karena itu saudaraku, apabila kita menghadapi masalah dari orang atau segerombolan orang yang itu – itu saja, belajarlah dari kisah Yusuf yang sabar menghadapi saudara – saudaranya. Renungkan siang dan malam. Dan biarkanlah kisah Yusuf menjadi rhema di dalam kehidupan kita.
Bacaan Injil: Mat 21:33-43.45-46.
Kalau kita melihat keseluruhan kisah Yusuf, kita dapat menyimpulkan bahwa dia memang sangat istimewa sehingga begitu diberkati oleh Allah: Ia mampu menafsirkan mimpi-mimpi; begitu dihormati oleh Potifar dan  seisi keluarganya; diangkat menjadi “tangan kanan” Firaun; dalam jabatan tinggi itu dia memasok bahan makanan dan pembebasan bagi Israel selama masa kelaparan. Namun ketika dia mulai memperoleh penglihatan secara sekilas lintas dalam mimpinya, Yusuf masih jauh dari sempurna. Yusuf adalah seorang “pelapor” yang menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan para saudaranya (lihat Kej 37:2). Dia juga “ngomong gede” kepada para saudaranya, dan juga kemudian kepada ayahnya tentang mimpi-mimpinya, sehingga hanya menambah kebencian dan rasa iri saudara-saudaranya terhadap dirinya (lihat Kej 37: 5-11). Sebagai puncak kebencian para saudaranya, Yusuf pun disekap dalam sebuah sumur kering dan dijual sebagai seorang budak-belian kepada kafilah orang Ismael.

Bagi Yusuf peristiwa ini mungkin dilihat sebagai akhir dari segala-galanya – tidak seperti yang dilihatnya sebagai rencana Allah terhadap dirinya sesuai dengan mimpi-mimpinya. Namun ternyata bahwa pada awal perjalanannya bersama Allah, semua “nasib sial” ini justru diperlukan! Berbagai “nasib sial” membuat diri Yusuf rendah hati dan memperlunak segi-segi kasar dan angkuh dalam kepribadiannya, agar dengan demikian dia sungguh-sungguh dapat menjadi sebuah bejana Allah. Pandangan ke masa depan dari Yusuf pada saat dia menengadah dari dalam sumur dan memandang para saudaranya yang mendzalimi dirinya mungkin saja berbeda, namun pada akhirnya dia dapat memaklumi bahwa Allah memperkenankan semua muzibah atas dirinya itu terjadi demi kebaikannya sendiri.

Hal yang sama dapat benar dalam kehidupan kita. Barangkali kata-kata keras serta kasar, keangkuhan dan ketiadaan-rasa percaya kepada Allah telah menempatkan diri kita dalam suatu situasi sulit, yang kelihatan jauh dari rencana Allah bagi kita. Perkawinan yang dipenuhi kegaduhan dan percekcokan, perseteruan antara kakak-adik, atau situasi suami-istri yang sudah berada 10 meter sebelum titik-cerai dapat begitu menekan jiwa, apabila kita melihatnya sekadar dari perspektif kita sebagai manusia. Akan tetapi, apabila kita bertekun dalam doa dan rasa percaya, kita akan belajar untuk melepaskan situasi-situasi yang kita hadapi kepada tangan-tangan Allah. Tahap demi tahap, iman kita akan bertumbuh, dan panggilan Allah kepada kita pun akan semakin terkuak.
Satu hal yang selalu kita dapat andalkan, yaitu bahwa Allah mengetahui situasi-situasi yang kita hadapi, malah Dia lebih mengetahui daripada kita sendiri. Allah juga dapat bekerja dalam situasi-situasi di mana semuanya sudah tidak memungkinkan, apabila digunakan standar-standar manusiawi. Kisah Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada sesuatu apapun yang tidak termasuk ruang lingkup Allah atau kuasa-Nya. Apabila kita melihat situasi yang sedang kita hadapi sungguh tidak memberi harapan, baiklah untuk mengingat kisah Yusuf ini dan ingat bahwa Allah dapat membentuk hati yang dipenuhi kasih dan kerendahan hati dalam diri semua anak-anak-Nya. Allah dapat membebaskan setiap orang – dalam setiap situasi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: